“People think a soul mate is your perfect fit, and that's what everyone wants. But a true soul mate is a mirror, the person who shows you everything that is holding you back, the person who brings you to your own attention so you can change your life.

A true soul mate is probably the most important person you'll ever meet, because they tear down your walls and smack you awake. But to live with a soul mate forever? Nah. Too painful. Soul mates, they come into your life just to reveal another layer of yourself to you, and then leave.

A soul mates purpose is to shake you up, tear apart your ego a little bit, show you your obstacles and addictions, break your heart open so new light can get in, make you so desperate and out of control that you have to transform your life, then introduce you to your spiritual master...”
Elizabeth Gilbert -

Wednesday, 22 February 2017

Mencintai diri sendiri

Di balik kelebihan tersembunyi kekurangan. Sebagai manusia, ya seperti itu. Nah berhubung gw manusia, gw juga begitu πŸ˜…πŸ˜…. Malahan, kurangnya gw itu banyak πŸ˜‚ Saking ngerasa kurang, dulu, gw sempat benci ama diri sendiri. Kurangnya gw yang paling utama terletak di fisik gw. Gw ngerasa gw itu ga cantik, ga manis, dan buruk rupa. Kok bisa? Terlahir diantara saudari dan mama yang menurut gw beda ama gw, bikin gw down πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚Ibaratnya... mama dan saudari gw itu angsa. Sementara gw? Itik. Saudari dan mama gw berkulit putih. Gw? Iiiish...  hitam lho. Dari wajah, mama dan saudari gw pada cantik. Lha gw? Entahlah.. ga ada cantik-cantiknya kata gw mah. Dan point terakhir soal ukuran tubuh. Saudari gw lebih tinggi dari gw. Kata gw siih beda tingginya cuma berapa centi aja. Tapi... gw dikatain kuntet, kurang kalsium 😒😒😒 Gw tau sih bercanda. Tapi ya tetep aja bikin bete kan ya?? 😧😧😧 

Dari kecil, lingkungan gw turut berperan. Saudari gw begitu "terlihat" sementara gw kayak hantu. Ga ada yang liat πŸ˜‚πŸ˜‚ makin lama makin parah. Jatuhnya gw minder dan ga pernah mau foto bareng keluarga. Dari luar, emang ga nampak ada masalah. Tapi sesungguhnya.. gw tertekan dengan pemikiran - pemikiran "kenapa gw berbeda??" . 

Gw anak pungut? Mmm.. sempat sih mikir begitu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ tapi serius kok, gw bukan anak pungut πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜› Muka gw sekilas mirip ama adek gw. Tapi kok bisa beda? Bisa. Papa gw pendek dan kulitnya "berwarna". Jadi ya kalo kata mama gw, wajar aja "penampakan" gw itu lain. 

Dan makin bertambah umur, gw mencoba untuk tidak melihat ke arah "kekurangan". Titik balik perihal kecintaan pada diri gw itu bermula disaat gw terpuruk, setelah perpisahan dengan Yan. Ada seorang teman baik, yang ga pernah bosen kasih wejangan. Salah satu wejangan dia yang sangat berkesan bagi gw pribadi adalah cerita soal standar keselamatan penumpang yang selalu diperagakan oleh pramugari sebelum pesawat tinggal landas. "Gunakan masker oksigen terlebih dahulu sebelum menolong orang lain untuk mengenakannya" . Secara logika gw, masuk. Lu ga akan bisa tolong orang, sebelum lu nolong diri lu sendiri. Begitu juga dalam mencintai. Ketika lu belum bisa mencintai diri lu sendiri, maka lu ga akan pernah bisa mencintai orang lain. Jadi ya.. gw mulai berubah perlahan. Gw belajar untuk mencintai diri gw gimanapun keadaanya. Hasilnya?? Pertanyaan "kenapa gw berbeda (secara fisik)" uda ga hantui gw. Gw lebih enjoy sekarang πŸ˜„πŸ˜„ 

Di luar sana, mungkin ada cewek yang kayak gw. Ga puas dengan keadaan fisiknya plus minder. Gw harap lu yang begitu bisa belajar. Gw aja bisa belajar, lu juga pasti bisa 😁



No comments:

Post a Comment